Artikel Kenalan, Yuk!

Hagai

June 3, 2026

Sekitar 2.500 tahun yang lalu, ada seorang nabi bernama Hagai. Ia hidup di masa ketika bangsa Yehuda baru saja pulang dari pembuangan di Babel ke kota asal mereka, Yerusalem. Sesampainya di sana, Hagai melihat sesuatu yang menyedihkan. Kota mereka hancur dan yang paling parah, Rumah Tuhan (Bait Suci) hanya tinggal tumpukan batu dan reruntuhan. Sudah 70 tahun lamanya Rumah Tuhan rusak dan terbengkalai.

Awalnya, bangsa Yehuda ingin memperbaikinya. Namun, lama-kelamaan mereka menjadi egois. Mereka berpikir, “Membangun Rumah Tuhan itu melelahkan. Lebih baik aku membangun rumahku sendiri dahulu supaya mewah dan nyaman.” Akhirnya, mereka sibuk menghias rumah sendiri dengan kayu-kayu mahal, sementara Rumah Tuhan dibiarkan kotor dan hancur. Meskipun mereka pentingkan diri sendiri hidup mereka malah makin berantakan. Semua ini terjadi karena mereka tidak setia kepada Tuhan. Mereka melupakan perintah Allah.

Melihat hal itu, Nabi Hagai datang membawa teguran keras dari Tuhan. Dia berseru dengan sangat berani agar bangsa Yehuda berhenti mementingkan diri sendiri. Ia mengajak mereka naik ke gunung, mengambil kayu, dan mulai membangun kembali Bait Suci. Mendengar seruan Hagai, pemimpin dan seluruh rakyat pun sadar dan bertobat. Mereka mulai bekerja sama mengutamakan Tuhan kembali.

Melalui Kitab Hagai, kita diajar bahwa yang paling penting adalah mengutamakan Tuhan daripada apa pun. Karena kepuasan hanya bisa kita peroleh di dalam ketaatan kepada Firman Allah. Waktu kita mendahulukan kesenangan sendiri di atas Tuhan, kita tidak akan pernah merasa puas. Menunda perintah Tuhan hanya akan membuat hidup kita terasa kosong dan tidak tenang. Bahagia sejati ada saat kita setia melakukan bagian kita untuk Tuhan. Karena ketaatan kepada Tuhan membawa bahagia sejati.